Jumat, 22 November 2013

AKU DAN POHON APEL

Suatu ketika, Hiduplah sebatang pohon apel besar dan anak lelaki yang
senang bermain-main di bawah pohon apel itu setiap hari.
 Ia senang memanjatnya hingga ke pucuk pohon, memakan buahnya, 
tidur-tiduran di keteduhan rindang daun-daunnya. 
Anak lelaki itu sangat mencintai pohon  apel itu. 
Demikian pula, pohon apel sangat mencintai anak kecil itu.
 Waktu terus berlalu. Anak lelaki itu kini telah tumbuh besar dan 
tidak lagi bermain-main dengan pohon apel itu setiap harinya. 
Suatu hari ia mendatangi pohon apel.
 Wajahnya tampak sedih. "Ayo ke sini bermain-main
lagi denganku," pinta pohon apel itu.

"Aku bukan anak kecil yang bermain-main dengan pohon lagi." jawab anak
lelaki itu "Aku ingin sekali memiliki mainan, tapi aku tak punya uang
untuk membelinya."
Pohon apel itu menyahut, "Duh, maaf aku pun tak punya uang... Tetapi kau
boleh mengambil semua buah apelku dan menjualnya. Kau bisa mendapatkan
uang untuk membeli mainan kegemaranmu."
Anak lelaki itu sangat senang. Ia lalu memetik semua buah apel yang ada
di pohon dan pergi dengan penuh suka cita. Namun, setelah itu anak
lelaki tak pernah datang lagi. Pohon apel itu kembali sedih. Suatu hari
anak lelaki itu datang lagi. Pohon apel sangat senang melihatnya datang.
"Ayo bermain-main denganku lagi." kata pohon apel.

"Aku tak punya waktu," jawab anak lelaki itu. "Aku harus bekerja untuk
keluargaku. Kami membutuhkan rumah untuk tempat tinggal. Maukah kau
menolongku?"

"Duh, maaf aku pun tak memiliki rumah. Tapi kau boleh menebang semua
dahan rantingku untuk membangun rumahmu." kata pohon apel.

Kemudian, Anak lelaki itu menebang semua dahan dan ranting pohon apel
itu dan pergi dengan gembira. Pohon apel itu juga merasa bahagia melihat
anak lelaki itu senang. Tapi anak lelaki itu tak pernah kembali lagi.
Pohon apel itu merasa kesepian dan sedih. Pada suatu musim panas, anak
lelaki itu datang lagi. Pohon apel merasa sangat bersuka cita
menyambutnya. "Ayo bermain-main lagi denganku." kata pohon apel.

"Aku sedih, "kata anak lelaki itu. "Aku sudah tua dan ingin hidup
tenang. Aku ingin pergi berlibur dan berlayar. Maukah kau memberi aku
sebuah kapal untuk pesiar?"
"Duh, maaf aku tak punya kapal. Tapi kau boleh memotong batang tubuhku
dan menggunakannya untuk membuat kapal yang kau mau. Pergilah berlayar
dan bersenang-senanglah."

Kemudian, Anak lelaki itu memotong batang pohon apel itu dan membuat
kapal yang diidamkannya. Ia lalu pergi berlayar dan tak pernah lagi
datang menemui pohon apel itu. Akhirnya, Anak lelaki itu datang lagi
setelah bertahun-tahun kemudian.

"Maaf, anakku," kata pohon apel itu. "Aku sudah tak memiliki buah apel
lagi untukmu."

"Tak apa." "Aku pun sudah tak memiliki gigi untuk mengigit buah apelmu."
jawab anak lelaki itu.

"Aku juga tak memiliki batang dan dahan yang bisa kau panjat." kata
pohon apel.

"Sekarang, aku sudah terlalu tua untuk itu." jawab anak lelaki itu.
"Aku benar-benar tak memiliki apa-apa lagi yang bisa aku berikan padamu.
Yang tersisa hanyalah akar-akarku yang sudah tua dan sekarat ini." kata
pohon apel itu sambil menitikkan air mata.

"Aku tak memerlukan apa-apa lagi sekarang." kata anak lelaki."Aku hanya
membutuhkan tempat untuk beristirahat. Aku sangat lelah setelah sekian
lama meninggalkanmu."

"Oooh, bagus sekali. Tahukah kau ... Akar-akar pohon tua adalah tempat
terbaik untuk berbaring dan beristirahat. Mari... Marilah berbaring di
pelukan akar-akarku dan beristirahatlah dengan tenang."
Anak lelaki itu berbaring di pelukan akar-akar pohon. Pohon apel itu
sangat gembira dan tersenyum sambil meneteskan air matanya.

Ini adalah cerita tentang kita semua. Pohon apel itu adalah orang tua
kita. Ketika kita muda, kita senang bermain-main dengan ayah dan ibu
kita. Ketika kita tumbuh besar, kita meninggalkan mereka, dan hanya
datang ketika kita memerlukan sesuatu atau dalam kesulitan. Tak peduli
apa pun, orang tua kita akan selalu ada disana untuk memberikan apa yang
bisa mereka berikan untuk membuat kita bahagia. Kita mungkin berpikir
bahwa anak lelaki itu telah bertindak sangat kasar pada pohon itu, Akan
tetapi begitulah cara kebanyakan dari kita memperlakukan orang tua kita.
Lihatlah diri kita masing-masing ..... Mudah-mudahan kita tidak termasuk
dari bagian cerita di atas.

Selasa, 19 November 2013

Sebuah kisah nyata untuk renungan kita semua agar jangan menilai
seseorang hanya dari luarnya saja...

Seorang wanita yang mengenakan gaun pudar dan suaminya yang berpakaian
sederhana dan terlihat usang, turun dari kereta api di Boston, dan
berjalan dengan malu-malu menuju kantor Pimpinan Harvard University dan
meminta janji temu. Sang sekretaris langsung mendapat kesan bahwa orang
kampung, udik seperti ini tidak ada urusan di Harvard dan bahkan mungkin
tidak pantas berada di Cambridge.

"Kami ingin bertemu Pimpinan Harvard", kata sang Pria lembut.
"Beliau hari ini sibuk," sahut sang Sekretaris cepat.
"Kami akan menunggu," jawab sang Wanita.
Selama 4 jam Sekretaris itu mengabaikan mereka, dengan harapan bahwa
pasangan tersebut akhirnya akan patah semangat dan pergi. Tetapi
ternyata tidak, dan sang sekretaris mulai frustrasi dan akhirnya
memutuskan untuk melaporkan kepada sang Pimpinan.

"Mungkin jika Anda menemui mereka selama beberapa menit, mereka akan
pergi," katanya pada sang Pimpinan Harvard.
Sang pimpinan menghela nafas dengan geram dan mengangguk.
Orang sepenting dia pasti tidak punya waktu untuk mereka, tetapi dia
tidak menyukai ada orang yang mengenakan baju pudar dan pakaian usang
diluar kantornya. Sang Pemimpin Harvard, dengan wajah galak menuju
pasangan tersebut.

Sang wanita berkata padanya, "Kami memiliki seorang putra yang kuliah
tahun pertama di Harvard. Dia sangat menyukai Harvard dan bahagia di
sini. Tetapi setahun yang lalu, dia meninggal karena kecelakaan. Kami
ingin mendirikan peringatan untuknya, di suatu tempat di kampus ini."

Sang Pemimpin Harvard tidak tersentuh... dia bahkan terkejut.
"Nyonya," katanya dengan kasar, "Kita tidak bisa mendirikan tugu untuk
setiap orang yang masuk Harvard dan meninggal. Kalau kita lakukan itu,
tempat ini akan seperti kuburan."

"Oh, bukan," Sang wanita menjelaskan dengan cepat, "Kami tidak ingin
mendirikan tugu peringatan. Kami ingin memberikan sebuah gedung untuk
Harvard."

Sang Pemimpin Harvard memutar matanya. Dia menatap sekilas pada baju
pudar dan pakaian usang yang mereka kenakan dan berteriak, "Sebuah
gedung! "Apakah kalian tahu berapa harga sebuah gedung?! Kami memiliki
lebih dari 7,5 juta dolar hanya untuk bangunan fisik Harvard."

Untuk beberapa saat sang wanita terdiam. Sang Pemimpin Harvard senang.
Mungkin dia bisa terbebas dari mereka sekarang. Sang wanita menoleh pada
suaminya dan berkata pelan, "Kalau hanya sebesar itu biaya untuk memulai
sebuah universitas, mengapa tidak kita buat sendiri saja?" Suaminya
mengangguk. Wajah sang Pemimpin Harvard menampakkan kebingungan.

Mr. dan Mrs. Leland Stanford bangkit dan berjalan pergi, melakukan
perjalanan ke Palo Alto, California, dimana mereka mendirikan sebuah
Universitas yang menyandang nama mereka, sebuah peringatan untuk seorang
anak yang tidak lagi diperdulikan oleh Harvard.

Anda bisa saja dengan gampang menilai karakter orang lain dengan melihat
bagaimana rupa mereka,lalu memperlakukan orang-orang yang Anda pikir
tidak dapat berbuat apa-apa unuk kepentingan Anda dengan kasar.Padahal,
dari mereka Anda bisa mendapatkan hal terbesar bahkan terbaik yg mungkin
bisa Anda dapatkan dari seseorang.

**Satu hal kecil yang Anda lakukan, adalah perbuatan besar bagi orang
lain,dan sesuatu yang tidak berarti bagi orang lain mungkin berarti
segalanya bagi Anda**


===================
Jadi tepatnya 1 oktober 1891 univ tsb diresmikan dgn 555 Mahasiswa
angkatan pertama
===================




video.filestube